Proses Berpikir dan Bahasa
Proses Berpikir
Berpikir merupakan proses kognitif yang berlangsung dari stimulus
hingga respon untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, menghasilkan sesuatu
yang baru, melakukan adaptasi dengan lingkungan, serta membentuk dan memilih
lingkungan. Kadangkala berpikir juga dapat diartikan sebagai penalaran,
meliputi proses mental yang digunakan untuk mementuk konsep, memecahkan
masalah, dan ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas kreatif.
Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada
tiga pandangan dasar tentang berpikir, yaitu (1) berpikir adalah kognitif,
yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari
perilaku, (2) berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa
manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif, dan (3) berpikir diarahkan dan
menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.
Berpikir
juga membutuhkan proses adapun proses berpikir adalah sebagai berikut : Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu:
1. Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih
tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga tingkatan, sebagai
berikut:
a. Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut
kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Kita ambil contoh saja masyarakat
dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya:
Ø Masyarakat
Indonesia : tinggi tubuh standar, rambut hitam, kulit agak hitam, hidung tidak
terlalu mancung.
Ø Masyarakat
Eropa : tubuh tinggi, warna mata berbagai macam, kulit putih, rambut pirang.
Ø Masyarakat Cina
: tubuh kecil, mata sipit, rambut hitam.
b. Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk
diketemukan ciri-ciri mana yang sama atau yang tidak sama, mana yang selalu ada
atau yang tidak selalu ada.
c. Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan,
membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki, menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada
contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu ialah: Makhluk hidup yang berbudi.
2. Pembentukan Pendapat
Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua
buah
pengertian atau lebih.
Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok
kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat. Selanjutnya pendapat dapat
dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a. Pendapat Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan
sesuatu, Misalnya Si Andi itu pandai, Si Ani rajin dan sebagainya.
b. Pendapat Negatif, yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas
menerangkan tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal.
c. Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, yaitu pendapat yang menerangkan
kebarangkalian, kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal.
Misalnya : hari ini mungkin akan turun hujan, Si Ali mungkin tidak datang. dan
sebagainya.
3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil
perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang
telah ada. Ada 3 macam keputusan, yaitu:
a. Keputusan induktif yaitu keputusan yang
diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Misalnya:
tembaga dipanaskan akan memuai, perak dipanaskan akan memuai, besi dipanaskan
akan memuai, kuningan dipanaskan akan memuai. Jadi kesimpulannya yaitu semua
logam kalau dipanaskan akan memuai (Umum).
b. Keputusan Deduktif ditarik dari hal yang
umum ke hal yang khusus, jadi berlawanan dengan keputusan induktif. Misalnya:
semua logam kalau dipanaskan memuai (umum), tembaga adalah logam. Jadi
kesimpulan yaitu tembaga kalau dipanaskan akan memuai.
c. Keputusan Analogis adalah keputusan yang
diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat
khusus yang telah ada. Misalnya: Totok anak pandai itu naik kelas (Khusus).
Jadi kesimpulannya Si Nunung anak yang pandai itu, tentu naik kelas.
Jadi dalam proses
berpikir terdapat tiga langkah yaitu :
- Contohnya: Pada saat kita disekolah guru kita memberikan soal fisika, pada awalnya tentu kita tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh guru kita. Namun dengan berjalannya waktu otak kita berkembang dan mulai melakukan proses berpikir pertama tentu otak kita akan merangsang apa yang kita terima dengan memberikan pengertian. Lalu dari soal latihan tersebut kita mulai mencari contoh-contoh soal lainnya yang mirip dan lebih mudah untuk dikerjakan sehingga memunculkan pendapat yang baru. Setelah itu kita mulai mencoba mengerjakan soal-soal tersebut dengan mudah karena sudah bisa mengetahui rumus apa yang akan digunakan saat diberikan soal fisika oleh guru.
Pemrosesan
Bahasa Menjadi Pikiran
Bahasa adalah
salah satu anugerah Tuhan yang memungkinkan manusia untuk mengelola pikirannya
dan mengendalikan pengaruh luar terhadap pikirannya. Manusia seperti makhluk
lainnya berinteraksi dengan lingkungannya dan memproses data dari organ panca
inderanya untuk menciptakan suatu representasi utama dari dunia. Representasi
di dunia menjadi sumber pesan yang diolah dalam pikiran.
Pesan-pesan yang disampaikan kepada manusia masuk ke dalam unit pemrosesan
khusus, dan di dalam unit tersebut pesan-pesan tersebut bersaing dengan
pesan-pesan lain. Pesan yang lebih kuat selanjutnya mengaktifasi sel-sel
motorik untuk melakukan fungsinya. Apabila citra sensori sudah berwujud sebagai
sebuah predator, maka seperangkat neuron akan melakukan fungsinya untuk
mengolah citra sensori tersebut. Meskipun proses tersebut sangat panjang namun,
kita tidak dapat menghitung dan merasakannya dan berlangsung sangat singkat.
Bahasa
adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan seseorang
disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karera
itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu
bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu:
periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode
linguistik inilah mulai anak mengucapkan kata kata yang, pertama. Yang
merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi
dalam tiga fase besar, yaitu:
1. Fase satu kata
atau Holofrase
Pada fase ini anak mempergunakan satu kata
untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan
atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat
berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama
sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan
oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut
diucapkan, sambil mengamati mimik (raut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya.
Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah
beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
2. Fase lebih
dari satu kata
Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar
18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri
dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan
predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang
tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh
empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak
tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mengadakan
komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya
jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan
kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.
3. Fase ketiga
adalah fase diferensial
Periode terakhir dari masa balita yang
bcrlangsung antara usia dua setcngah sampai lima tahun. Ketcrampilan anak dalam
berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak buKan saja
menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan
kata demii kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan
kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk
menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran
dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulaii dapat
mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberi tahu dan bentuk-bentuk
kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.
Proses berbahasa Reseptif merupakan
kegiatan penerimaan kode-kode bahasa yang disampaikan untuk kemudian dipahami
penerima, proses penerimaan ini disebut juga dekode. Keterampilan berbahasa
reseptif adalah membaca dan menyimak.. Proses decode dimulai dengan penerimaan
unsur bunyi pada penerima (decode fonologi), kemudian proses pemahaman bunyi
sebagai satuan gramatikal (decode gramatikal), dan diakhiri dengan pemahaman
atas konsep yang dibawa oleh kode tersebut (decode semantik) diantara proses
tersebut terdapat proses transmisi, yang bertugas mengubah kode tersebut
menjadi kode bahasa, selain itu ada juga proses penyampaian pesan dari konsep
tersebut yang sering disebut proses komunikasi. Proses tersebut terjadi pada
otak penerima yang kemudian dekeluarkan oleh alat ucap manusi dalam bentuk
bahasa. Dapat disimpulkan juga bahwa proses berbahasa reseptif diawali dari pemahaman
untuk dijadikan pemahaman juga (bahasa).
Proses berbahasa produktif adalah peristiwa
atau proses pelahiran kode bahasa bahasa. Proses berbahasa produktif itu sering
juga disebut enkode. Proses produktif dimulai dengan tahap idealisasi yakni
tahap kemunculan ide-ide dalam pemikiran manusia, tahap kedua adalah tahap
perancangan yaitu tahap pemilihan bentuk-bentuk bahasa sebagai wadah ide yang
muncul pada tahap idealisasi selain itu tahap perancangan juga meliputi
komponen bahasa yang lain. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan, pada tahap ini
lahir kode verbal linguistik yang melahirkan ujaran. Jika lebih disederhanakan
lagi maka proses berbahasa produktif dimulai dengan enkode semantik yakni tahap
penyusunan ide dan gagasan, tahap kedua
yaitu dekode gramatikal yakni tahap penyusunan konsep dalam satuan gramatikal
dan proses selanjutnya adalah dekode semantic yakni tahap pemahaman akan
konsep-konsep dari ide dan gagasan yang dibawah oleh kode tersebut. Proses ini
berlangsung dalam otak pendengar dan kemudian diproduksi oleh alat-alat bicara
atu artikulasi.
- Sebagai contohnya : Seorang anak yang berumur 1 tahun akan mulai memahami bahasa yang didengar olehnya namun karena belum adanya kemampuan untuk mengucapkan bahasa tersebut sang anak hanya mengeluarkan bunyi yang terdengar sedikit mirip dengan apa yang didengarnya. Semakin berkembangnya pola piker dan kemampuan otak serta berbahasa anak tersebut akan mulai lancer mengucapkan seperti apa yang telah didengarnya