Jumat, 20 Maret 2015

kondidi pendidikan di Indonesia menurut sudut pandang psikologi



KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA MENURUT SUDUT PANDANG PSIKOLOGI



 




            Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi masyarakat/bangsa. Maju-mundurnya kualitas peradaban pada manusia bergantung pada bagaimana kondisi pendidikan yang terdapat pada masyarakat suatu bangsa tersebut. Pendidikan juga merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Pendidikan bisa bersifat formal,informal maupun nonformal, pendidikan formal adalah pendidikan yang biasa kita dapati di sekolah maupun di universitas, pendidikan nonformal bisa kita dapat dari lingkungan sekitar yaitu dengan interaksi sosial, lalu pendidikan nonformal terdapat pada tempat bimbel atau les.



            Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas tentang “kondisi pendidikan di Indonesia menurut sudut pandang psikologi”. Bila kita membicarakan kondisi pendidikan di Indonesia pasti kita sudah banyak mengetahui melalui media masa seperti televisi, Koran atau artikel-artikel bahkan bila kita tidak sempat melihat berita ditelivisi atau membaca Koran dan artikel ,sekarang ini kita bisa mengakses melalui internet atau media sosial. Perkembangan zaman sudah mempermudah kita untuk bisa mengetahui hal apa yang sedang hangat dibicarakan khususnya pada saat ini yang akan penulis bahas yaitu tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Bila kita lihat kondisi pendidikan di Indonesia sangatlah memperihatinkan banyak sekali kasus-kasus yang berkaitan tentang kurangnya pendidikan di Indonesia seperti tawuran antar pelajar yang sudah tak asing lagi bagi kita. Lalu kekerasan yang terjadi oleh senior kepada juniornya (senioritas) hal tersebut nampaknya sudah menjadi trend yang turun-temurun dilakukan oleh para senior setiap tahun pembelajaran baru tepatnya pada Masa Orientasi Siswa (MOS). Tak kalah menarik sekarang-sekarang ini kita dikejutkan oleh adanya kekerasan seksual pada anak dari usia dini ( TK – SD ) sampai siswa Sekolah Mengah Atas (SMA). Bukan hanya itu setiap tahunnya kita juga sudah sering mendengar siswa-siswi yang merasa stress dan depresi saat mendekatnya Ujian Nasional bahkan banyak dari mereka karena terlalu stress dan depresi akibatnya mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.



         





            Jika kita melihat kondisi pendidikan di Indonesia melalui sudut pandang psikologi melalui permasalahan-permasalahan menyangkut masalah pendidikan yang sudah dijelaskan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kondisi pendidikan yang ada pada bangsa Indonesia masih jauh dari harapan. Meski sudah banyak sekali metode pendidikan yang gunakan oleh pemerintah terkait masalah pendidikan namun masih saja terdapat masalah terhadap pendidikan di Indonesia. Terkait kasus tawuran antar pelajar memperlihatkan bahwa moral anak bangsa masih dipertanyakan, tindakan yang sangat tidak patut dilakukan oleh anak bangsa ini menimbulkan pertanyaan apakah mereka tidak diajarkan moral serta perilaku yang baik melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Kita tahu di dalam pelajaran tersebut kita diajarkan bagaimana berperilaku yang baik kepada sesama dan saling memberikan rasa aman atau justru mereka yang mengacuhkan pelajaran tersebut sehingga masih sering terjadi tawuran antar pelajaran.  Lalu pada kasus senioritas dan pelecehan seksual membuat siswa-siswi yang menjadi korban tersebut merasa trauma yang berat sehingga mereka merasa enggan untuk kembali ke sekolah mereka. Mental para korban keduanya sudah sangat terganggu sehingga muncul dipikiran mereka bahwa sekolah bukanlah tempat yang aman sehingga mereka hanya berdiam diri di rumah sekian lama atau melakukan home schooling. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja sudah selayaknya peran orang tua,guru maupun pemerintah untuk ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menyangkut masalah pendidikan di Indonesia. Kita tidak boleh mengabaikannya begitu saja namun harus memikirkan bagaimana caranya agar masalah ini dapat terselesaikan sehingga siswa-siswi tidak lagi menjadi korban atas kejahatan tersebut.

Kamis, 19 Maret 2015

Tahapan-tahapan terjadinya persepsi pada individu


PROSES TERJADINYA PERSEPSI PADA MANUSIA






1.      Proses Sensasi sampai Presepsi pada manusia
1      1) Stimulus atau objek adalah yang menghasilkan respon pada organ penginderaan manusia yang berpengaruh terhadap kelakuan manusia setelah menerimanya. Contohnya : Suara, Cahaya, dan Sentuhan.

2   2)   Ambang Batas adalah batasan rangsangan yang terjadi oleh stimulus sehingga dapat diterima dengan baik oleh panca indera

a. Ambang Batas Kuat : stimulus yang sangat kuat sehingga dapat ditangkap dengan sangat jelas namun berdampak buruk bagi pengindaraan khususnya pendengaran
Contoh : orang yang teriak dalam ruangan tertutup sehingga semua orang yang didalam ruangan dapat mendengar suaranya
b. Ambang Batas Lemah : stimulus yang sangat lemah sehingga tidak dapat diterima dengan jelas oleh penginderaan manusia.
Contoh : orang berada diantara dua orang yang sedang asik mengobrol namun karena kedua orang tersebut berbicara dengan suara yang pelan sehingga orang yang berada diantara mereka tidak dapat mendengar

3)      Panca Indera adalah pengindraan yang di miliki manusia untuk menerima stimulus.
a.       Penglihatan: mata, peka terhadap cahaya sehingga kita dapat membedakan terang dan gelap, hitam dan putih, warna.
b.      Pendengaran: telinga, peka terhadap getaran yang menghasilkan bunyi.
c.       Penciuman: hidung peka terhadap bau
d.      Pengecapan: lidah peka sehingga dapat membedakan rasa manis, asin, asam, pahit
e.       Peraba: permukaan kulit, merasakan kasar, halus dan lembab terhadap sesuatu yang di sentuh kulit.
f.       Sixtence atau Indra ke 6 : pikiran atau otak, karena manusia memiliki 2 alam kesadaran yaitu alam sadar dan alam bawah sadar, pada penginderaan ini alam bawah sadar lebih besar dari pada alam sadar manusia itu sendiri.

4)      Sensasi berasal dari kata “sense” dalam bahasa Inggris yang berarti alat penginderaan, yang menghubungkan organisasi dengan lingkungannya. Jadi sensasi adalah tahap awal penerimaan informasi dari lingkungan luar yang berupa stimulus dan dapat di terima oleh panca indra sehingga menjadi informasi.

5)      Proses yang mempengaruhi adalah stimulus yang diterima oleh alat indera lalu diteruskan ke syaraf sensoris ke otak kemudian dari otak sebagai pusat kesadaran yang mengakibatkan manusia dapat menyadari apa yang dia dilihat, didengar, dan diraba .

6)      Persepsi adalah proses mengenali objek atau peristiwa yang terjadi pada individu setelah mendapatkan stimulus melalui penginderaan yang memberikan kesan yang sudah bermakna.
 
 A. Persepsi Visual : stimulus yang didapatkan oleh penginderaan kemudian diproses untuk  mengenali objek atau peristiwa yang terlihat oleh individu untuk  memberikan kesan dan makna yang dia lihat.
  B. Persepsi Individual : proses mengenali objek atau peristiwa yang terjadi pada individu setelah mendapatkan stimulus melalui penginderaan yang memberikan kesan yang bermakna untuk dirinya sendiri tanpa orang lain mengetahuinya.
2.      Faktor – faktor Presepsi

1.      Faktor Internal
  a.     Alat Indera, syaraf, dan pusat penyusunan Syaraf
  Alat indera atau reseptor berfungsi untuk menerima stimulus. Sedangkan syaraf            sensoris berperan dalam meneruskan stimulus yang diterima reseptor, ke pusat  susunan syaraf yaitu otak sebagai kesadaran. Supaya terjadinya respon diperlukan syaraf motorik.
  b.    Perhatian adalah proses pada tahap pertama sebagai persiapan mengadakan persepsi. Perhatian juga bisa disebut pemusatan atau pengonsentrasian seluruh aktivitas individu pada satu atau sekumpulan objek.
    2.      Faktor  Eksternal
  a.       Objek yang di persepsi adalah stimulus yang memicu atau meransang alat indera atau    reseptor, sebagian besar stimulus itu dating dari luar, ada juga stimulus yang datang      dari dalam individu yang memersepsesi.
  b.      Nilai – nilai dan kebutuhan Individu adalah sesuatu stimulus yang dibutuhkan untuk       seseorang dalam bersosialisasi kepada orang lain.
3.      Proses Penambahan Sensasi – presepsi 
      1)     Stimulus adalah ojek dari lingkungan sekitar atau energi yang dihasilkan oleh respon pada                alat penginderaan yang berpengaruh pada kelakuan manusia.
2)   Transductive adalah penalaran atau pemikiran yang diamati secara acak dan tidak terfokus pada satu objek. 
3)   Brain : Primary Area adalah daerah sensorik premier, area otak utama yang menerima informasi sensorik dari proyeksi syaraf utama. 
4)   Brain : Association Area adalah bagian dari otak yang terhubung ke fungsi bagian utama dari syaraf utama.  Daerah ini bertanggung jawab untuk berfikir, memori dan pembelajaran dalam kombinasi dengan bagian - bagian utama. 
5)   Personalized Preception adalah suatu stimulus yang keluar dengan sendirinya dari dalam diri secara alamiah.




Kamis, 12 Maret 2015

Pentingnya Bakat dan Cara Pengembangannya

PENTINGNYA BAKAT DAN PENGEMBANGANNYA


      Bakat mengandung makna kemampuan bawaan yang merupakan potensi yang masih perlu pengembangan dan latihan lebih lanjut. Karena sifatnya yang masih potensial atau masih laten, bakat memerlukan ikhtiar pengembangan dan pelatihan secara serius dan sistematis agar dapat terwujud ( Utami Munandar 1992 ). Bakat adalah kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan, baik yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus ( Conny Semiawan 1987 ). Bakat umum apabila kemampuan yang berupa potensi tersebut bersifat umum. Misalnya bakat intelektual secara umum, sedangkan bakat khusus apabila kemampuan bersifat khusus. Misalnya bakat akademik, sosial, dan seni kinestetik. Bakat khusus biasanya disebut talent sedangkan bakat umum (intelektual) biasanya disebut gifted. Bakat baru muncul bila ada kesempatan untuk berkembang atau dikembangkan. Sehingga mungkin saja seseorang tidak mengetahui dan mengembangkan bakatnya sehingga tetap merupakan kemampuan yang laten.

       Sering kali kita betanya pada diri kita sendiri bakat apakah yang kita miliki? Bagaimana caranya mengetahui bakat yang kita punya?. Tidak banyak dari kita yang mengetahui bakatnya sejak dini, kebanyakan dari mereka masih mencari-cari bakat yang mereka miliki atau bahkan mengikuti orang lain dengan anggapan bisa mengetahui bakat yang mereka punya. Kita tahu bahwa sebenarnya sejak lahir setiap orang mempunyai bakatnya masing-masing, namun seringkali bakat itu tidak muncul atau tidak berkembang. Banyak yang mengeluh mengalami kesulitan ketika menentukan bakat mana yang harus dikembangkan atau bakat apa yang sesungguhnya dimiliki oleh kita ,oleh sebab itu kita harus tahu bagaimana ciri-ciri yang menunjukkan bahwa kegiatan itu sesuai dengan bakat kita dan cara pengembangannya. Adapun ciri – cirinya adalah sebagai berikut :

a)    Tidak merasa terpaksa untuk melakukan suatu hal bahkan lebih cenderung untuk senang melakukannya dan ada perasaan bahagia yang terpancar ketika melakukan, melihat atau bahkan hanya dengan mendengarnya saja.

b)    Kita mampu berkonsentrasi terhadap hal tersebut dan cenderung tekun.

c)    Mempunyai rasa ingin tahu yang besar terhadap hal tersebut.    

d)    Merasa senang ddan tidak pernah  bosan ketika melakukan hal tersebut.

         Dalam pengembangannya bakat memerlukan perhatian yang serius dan tidak dianggap remeh,karena bila bakat diperhatikan secara serius maka akan sangat baik untuk kedepannya. Lalu diperlukan juga latihan yang tekun, bukan berarti jika kita sudah mempunyai bakat disuatu bidang lalu kita tidak melatihnya maka bakat kita tersebut tidak akan berkembang dan hanya berada pada tingkat tersebut saja. Oleh karenanya dibutuhkan latihan yang tekun agar bakat yang kita miliki selalu berkembang. Selain itu untuk mengembangkan bakat,kita juga memerlukan sarana,kerjasama dan pengetahuan(pengalaman) yang berfungsi sebagai penunjang berkembangnya bakat tersebut.

       Jadi, apabila kita sudah menemukan bakat yang kita miliki tugas kita adalah terus mengasahnya, melatihnya, dan mengembangkannya agar bakat yang kita miliki itu bisa membuahkan hasil yang positif bagi diri kita maupun orang lain. Jangan sampai jika kita sudah mengetahui bakat yang kita punya justru membuat kita berbesar hati akan apa yang sudah kita miliki,tetapi bakat tersebut harus tetap dilatih dan dikembangan agar di masa depan kelak bakat kita tersebut tetap berguna.