Fenomena Kesahatan Mental
dan Konsep Normal – Abnormal di Masyarakat
Sehat adalah suatu kondisi dimana seseorang dalam keadaan baik
antara jasmani dan rohani, keduanya saling berhubungan mengatur fungsi-fungsi
yang ada pada tubuh kita. Semua orang ingin dirinya dalam keadaan sehat , tidak
ada seseorang yang menginkan dirinya dalam keadaan tidak sehat. Kesehatan
adalah seseuatu yang berharga dan mahal oleh sebab itu penting bagi diri kita
untuk menjaga kesehatan tubuh kita. Pada zaman sekarang ini banyak sekali
manusia yang memiliki pola hidup yang tak sehat berbeda sekali dengan manusia
terdahulu yang selalu menjaga pola hidup mereka. Mulai dari makanan, olahraga,
atau kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan sehingga, sudah banyak
sekali penyakit – penyakit baru yang bermunculan pada saat ini. Tak hanya
penyakit jasmani saja yang ada pada saat ini namun juga penyakit yang tak bisa
dianggap remeh karena berhubungan dengan mental atau jiwa seseorang dan
berkaitan erat dengan psikologi. Maka dari itu Psikologi sebagai ilmu yang
sudah berdiri sendiri pada saat ini membahas tentang adanya suatu masalah
berkaitan dengan Kesehatan Mental.
Kesehatan mental adalah terhindarnya
seseorang dari gejala gangguan jiwa (neurose) dan dari gejala-gejala penyakit
jiwa (psychose). Suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual,
dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu selaras dengan perkembangan
orang lain. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi
jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk menghadapi problem-problem yang biasa
terjadi, dan merasakan secara positif kebahagiaan dan kemampuan dirinya. Masih
banyak sekali masyarakat khususnya di Indonesia yang meremehkan kesehatan
mental. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya masyarakat yang menghindar untuk
datang ke psikolog atau psikiater hanya karena stigma yang sudah tersebar bahwa
orang yang datang ke psikolog atau ke psikiater adalah orang “gila” atau
mempunyai gangguan jiwa. Salah satu contoh fenomena kesehatan mental yang ada
di kalangan masyarakat adalah sebagai berikut : Sudah tak asing lagi mungkin bagi kita
mendengar peristiwa hamil diluar nikah , miris memang mendengarnya namun
begitulah kenyataannya yang terjadi pada saat ini dikalangan para remaja.
Mengikuti gaya hidup seperti yang ada di Barat sudah banyak sekali remaja di
Indonesia yang mengalami hamil diluar nikah, dan sebagian besar dari mereka
merasa malu karena mendapat omongan dari luar sehingga munculah
gangguan-gangguan mental seperti stress, depresi,dan frustasi hal ini juga disebabkan
karena pasangan mereka meninggalkannya setelah tahu bahwa perempuannya positif
hamil. Gangguan mental tersebut yang akhirnya membuat para korban hamil diluar
nikah ini memilih untuk mengaborsi bayi tersebut atau bahkan yang lebih
parahnya mereka berani mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Peristiwa ini
memberikan pelajaran kepada kita bahwa seseorang yang di hidupnya mendapatkan
tekanan dari luar berupa omongan-omongan negatif dapat menyebabkan seseorang
mengalami stress dan apabila seseorang yang mendapat tekanan tersebut memiliki
jiwa yang tidak kuat maka akan timbul suatu ganggguan kejiwaan dan menurunnya
mental mereka. Oleh karena itu Kesehatan Mental tidak bisa begitu saja kita
remehkan karena begitu besar dampaknya bagi kehidupan .
Karena tidak ada satu orang pun yang
memiliki model manusia yang ideal, maka kita sukar untuk secara pasti
mengklasifikasikan apa yang dimaksud normal dan abnormal.
Berikut
ciri-ciri yang pribadi yang sehat-normal menurut aspek penyesuaian diri :
- Sikap terhadap diri sendiri --> Menunjukkan penerimaan diri (konsep diri); memiliki jati diri yang memadai (positif); memiliki penilaian yang realistik terhadap berbagai kelebihan dan kekurangan yang dimiliki dan tidak dimiliki oleh diri sendiri.
- Persepsi terhadap realitas --> Memiliki pandangan yang realistik terhadap diri sendiri dan terhadap dunia, orang lain dan benda di sekelilingnya dalam kehidupan kesehariannya.
- Integrasi --> Berkepribadian utuh, bebas dari konflik-konflik batin yang melumpuhkan, memiliki toleransi yang baik terhadap stres (dapat menyelesaikan masalah dan memiliki coping stres yang sesuai).
- Kompetensi --> Memiliki kompetensi-kompetensi fisik, intelektual, emosional, dan sosial yang memadai untuk mengatasi berbagai problema hidup dalam kesehariannya.
- Otonomi --> Memiliki kemandirian, tangggung jawab dan penentuan diri (self determination, self direction) yang memadai disertai kemampuan cukup untuk membebaskan diri dari aneka pengaruh sosial agar tidak terombang-ambing dan terpengaruh secara cepat oleh lingkungan sosial sekitar.
- Pertumbuhan aktualisasi diri --> Menunjukkan kecenderungan ke arah menjadi semakin matang, kemampuan-kemampuannya dan mencapai pemenuhan diri sebagai pribadi, semakin bertambah umur diharapkan tingkat kematangan seseorang pun semakin membaik sesuai dengan tingkat kematangan umurnya.
Beberapa kriteria yang dimaksud
adalah penyimpangan dari norma statistik, penyimpangan dari norma-norma sosial,
gejala "salah suai" (malajudgement), tekanan batin, dan
ketidakmatangan.
- Penyimpangan dari norma-norma statistik abnormal adalah setiap hal yang luar biasa, tidak lazim, atau secara harfiah yang menyimpang dari norma. hampir setiap kepribadian tersebar dalam populasi orang mengikuti kurva normal yang bentuknya mirip genta/lonceng, di mana dua pertiga dari jumlah kasus terletak pada sepertiga dari keseluruhan bidang yang mewakili populasi tersebut. kriteria ini cocok diterapkan untuk sifat kepribadian tertentu seperti sifat agresif, di mana makin jauh dari nilai rata-rata baik ke arah kiri maupun kanan kita temukan orang-orang dengan tingkat agresifitas ekstrem (rendah atau tinggi), yang dua-duanya berkonotasi negatif. sebaliknya kriteria ini tidak cocok untuk sifat-sifat kepribadian lain, seperti inte;egensi sebab kendati sama-sama abnormal namun genius (ektrem tinggi) jelas mempunyai nilai positif, sedangkan sifat idiot (ekstrem rendah) punya nilai negatif.
- Penyimpangan dari norma-norma sosial Menurut kriteria ini, abnormal diartikan sebagai non konformitas, yaitu sifat tidak patuh atau tidak sejalan dengan norma sosial. inilah yang disebut relativisme budaya bahwa apa saja yang umum atau lazim dalah normal. kendati tidak selalu sepakat, namun patokan semacam ini sering berlaku dalam masyarakat. patokan ini didasarkan pada dua pengandaian yang patut diragukan kebenarannya. pertama aalah apa yang dinaliali tinggi dan dilakukan oleh mayoritas selalu baik dan benar. kedua bahwa perbuatan individu yang sejalan dengan norma-norma masyarakat yang berlaku selalu menunjang kepentingan individu itu sendiri maupun kepentingan kelompok atau masyarakat.
- Gejala "salah suai" (malajudgement) abnormalitas dipandang sebagai ketidakefektifan individu dalam menghadapi, menanggapi, menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan sosialnya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri. Kriteria semacam ini jelas bersifat negatif, artinya tidak memperhitungkan fakta bahwa seorang individu dapat berpenyesuaian baik (well adjusted) tanpa memanfaatkan dan mengembangkan kemampuan-kemampuannya. tidak sedikit orang yang secara umum disebut "berhasil" dalam menjalani hidup ini, adalam arti hidup "lumrah baik" namun sebagai pribadi tidak pernah berkembang secara maksimal optimal.
- Tekanan Batin abnormalitas dipandang sebagai perasaan-perasaan cemas, depresi atau sedih atau perasaan bersalah yang mendalam. namun, ini bukan patokan yang baik untuk membedakan perilaku normal dari yang abnormal atau sebaliknya. Tekanan batin yang kronik seperti tak berkesudahan mungkin memang merupakn indikasi bahwa ada sesuatu yang tidak beres. sebaliknya sangat normal bila orang merasa sedih atau tertekan manakala mengalami musibah, kekecewaan dan ketidakadilan. Ketabahan memang merupakan suatu indikator kemasakan menghadpi bencana, namun dalam keadaan biasa wajar misalnya, akan terkesan aneh apabila seseorang merasa gembira menghadapi kematian otang yang terkasih.
- Ketidakmatangan Seseorang dikatakan abnormal apabila perilakunya tidak sesuai dengan tingkat usianya, dan tidak sesuai dengan situasinya. misalnya sering sulit menemukan patokan tentang kepantasan dan kematangan. Colemen, Butcher dan Crason (1980) dengan tetap menyadari kekurangannya akhirnya menggunakan dua kriteria yaitu abnormalitas sebagai penyimpangan dari norma-norma masyarakat dan abnormalitas dalam arti apa saja yang bersifat maladaptif. yang terakhir berati apa saja yang tidak menunjang kesejahteraan sang individu sehingga pada akhirnya juga tidak menunjang kemaslahatan masyarakat. kesejahteraaan atau kemaslahatan masyarakat meliputi baik kemampuan bertahan maupun perkembangan-pencapaian pemenuhan diri atau aktualisasi dari berbagai kemampuan yang dimiliki.
Jadi definisi dan ciri-ciri Perilaku
abnormal adalah perilaku yang dilakukan di luar batas wajar orang lain pada
umumnya (ektrem kiri maupun kanan), menyimpang dari norma sosial atau tata
aturan dalam hidup berkelompok sosial (masyarakat), kurang berhasilnya
memanfaatkan kemampuan diri individu itu sendiri dalam menghadapi, menanggapi,
menangani atau melaksanakan tuntutan-tuntutan dari lingkungan fisik dan
sosialnya maupun yang bersumber dari kebutuhannya sendiri, seseorang yang
mengalami tekanan batin yang kronik mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang tidak
beres, dan tingkat kematangan seseorang yang tidak sesuai dengan tingkat
usianya yang sepantasnya tidak dilakukan.

