Tampilkan postingan dengan label tugas psikologi pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas psikologi pendidikan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2015

Anak Berbakat Asal Indonesia



Brandon De Angelo Si Anak Berbakat

Boneka Mei di tangan bocah :) Masa depan bukan hanya di tangan kita, 
tapi juga di tangan banyak bocah. Kalau kita memilih bekerja keras 
dengan cinta mendidik bocah-bocah kita pasti akan ada masa depan lebih baik. 
Jangan beri ada tempat untuk keputusasaan di hati kita.
Gerakannya lincah. Hentakan kaki dan gerakan tangannya patah-patah. Tubuhnya meliuk-liuk seiring irama musik. Ditambah kepolosan  yang membuat orang banyak jatuh hati. Yah, siapa yang tidak kenal dengan Brandon, penari cilik nan menggemaskan itu!
Berawal dari Indonesia Mencari Bakat
Nama Brandon mulai dikenal ketika tampil dalam acara Indonesia Mencari Bakat - IMB - di Trans TV. Sosok dan tariannya selalu ditunggu pemirsa di seluruh tanah air. Ini terbukti dengan keberhasilan Brandon menembus 3 besar IMB.

Brandon si penari cilik itu mulai belajar menari hip-hop di Sanggar Last Minute sejak umur 6 tahun. Brandon digembleng oleh 3 pelatih, yaitu Kak Nia, Kak Samy, dan Kak Edo. Mereka berlatih dua kali dalam seminggu. Keindahan tarian hip-hop menjadi alasan kenapa Brandon menyukainya. Selain itu Brandon juga ingin mempelajari berbagai jenis tarian lain agar ilmunya bertambah.
Brandon ini ternyata sudah belajar nge-dance dari umur 6 tahun loh. Selain bakatnya yang luar biasa, dari facenya yang lucu dan imut imut itu loh bikin



 geregetan, Tapi Brandon juga sebenernya untuk bakat ngedance sudah ada sejak umur 3 tahun. Dari umur 3 tahun itu Brandon show nari loh. Apa yang ditampilkan bocah berusia 8 tahun ini sangatlah entertaining, bukan hanya wajahnya yang lucu tapi juga kemampuannya yang sangat luar biasa. Gerak tubuhnya, ekspresi dan pembawaannya di panggung layaknya penari profesional. Prestasinya kini semakin melambung sebelumnya Rekor MURI sebagai penari termuda di Indonesia telah ia raih dan kini dia telah berkolaborasi dengan maestro Pantomin Indonesia Septian Dwi Cahyo ,.. sungguh pretasi yang menakjukan bukan bagi bocah seumur Brandon De Angelo.

Jumat, 20 Maret 2015

kondidi pendidikan di Indonesia menurut sudut pandang psikologi



KONDISI PENDIDIKAN DI INDONESIA MENURUT SUDUT PANDANG PSIKOLOGI



 




            Pendidikan merupakan faktor yang sangat penting bagi masyarakat/bangsa. Maju-mundurnya kualitas peradaban pada manusia bergantung pada bagaimana kondisi pendidikan yang terdapat pada masyarakat suatu bangsa tersebut. Pendidikan juga merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya. Hewan juga “belajar” tetapi lebih ditentukan oleh instinknya, sedangkan manusia belajar berarti merupakan rangkaian kegiatan menuju pendewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Pendidikan bisa bersifat formal,informal maupun nonformal, pendidikan formal adalah pendidikan yang biasa kita dapati di sekolah maupun di universitas, pendidikan nonformal bisa kita dapat dari lingkungan sekitar yaitu dengan interaksi sosial, lalu pendidikan nonformal terdapat pada tempat bimbel atau les.



            Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas tentang “kondisi pendidikan di Indonesia menurut sudut pandang psikologi”. Bila kita membicarakan kondisi pendidikan di Indonesia pasti kita sudah banyak mengetahui melalui media masa seperti televisi, Koran atau artikel-artikel bahkan bila kita tidak sempat melihat berita ditelivisi atau membaca Koran dan artikel ,sekarang ini kita bisa mengakses melalui internet atau media sosial. Perkembangan zaman sudah mempermudah kita untuk bisa mengetahui hal apa yang sedang hangat dibicarakan khususnya pada saat ini yang akan penulis bahas yaitu tentang kondisi pendidikan di Indonesia. Bila kita lihat kondisi pendidikan di Indonesia sangatlah memperihatinkan banyak sekali kasus-kasus yang berkaitan tentang kurangnya pendidikan di Indonesia seperti tawuran antar pelajar yang sudah tak asing lagi bagi kita. Lalu kekerasan yang terjadi oleh senior kepada juniornya (senioritas) hal tersebut nampaknya sudah menjadi trend yang turun-temurun dilakukan oleh para senior setiap tahun pembelajaran baru tepatnya pada Masa Orientasi Siswa (MOS). Tak kalah menarik sekarang-sekarang ini kita dikejutkan oleh adanya kekerasan seksual pada anak dari usia dini ( TK – SD ) sampai siswa Sekolah Mengah Atas (SMA). Bukan hanya itu setiap tahunnya kita juga sudah sering mendengar siswa-siswi yang merasa stress dan depresi saat mendekatnya Ujian Nasional bahkan banyak dari mereka karena terlalu stress dan depresi akibatnya mereka memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.



         





            Jika kita melihat kondisi pendidikan di Indonesia melalui sudut pandang psikologi melalui permasalahan-permasalahan menyangkut masalah pendidikan yang sudah dijelaskan di atas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kondisi pendidikan yang ada pada bangsa Indonesia masih jauh dari harapan. Meski sudah banyak sekali metode pendidikan yang gunakan oleh pemerintah terkait masalah pendidikan namun masih saja terdapat masalah terhadap pendidikan di Indonesia. Terkait kasus tawuran antar pelajar memperlihatkan bahwa moral anak bangsa masih dipertanyakan, tindakan yang sangat tidak patut dilakukan oleh anak bangsa ini menimbulkan pertanyaan apakah mereka tidak diajarkan moral serta perilaku yang baik melalui pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Kita tahu di dalam pelajaran tersebut kita diajarkan bagaimana berperilaku yang baik kepada sesama dan saling memberikan rasa aman atau justru mereka yang mengacuhkan pelajaran tersebut sehingga masih sering terjadi tawuran antar pelajaran.  Lalu pada kasus senioritas dan pelecehan seksual membuat siswa-siswi yang menjadi korban tersebut merasa trauma yang berat sehingga mereka merasa enggan untuk kembali ke sekolah mereka. Mental para korban keduanya sudah sangat terganggu sehingga muncul dipikiran mereka bahwa sekolah bukanlah tempat yang aman sehingga mereka hanya berdiam diri di rumah sekian lama atau melakukan home schooling. Hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja sudah selayaknya peran orang tua,guru maupun pemerintah untuk ikut andil dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang menyangkut masalah pendidikan di Indonesia. Kita tidak boleh mengabaikannya begitu saja namun harus memikirkan bagaimana caranya agar masalah ini dapat terselesaikan sehingga siswa-siswi tidak lagi menjadi korban atas kejahatan tersebut.