POTENSI DALAM DIRI
Setiap manusia dilahirkan dalam bakat atau potensi diri yang
berbeda-beda, Karena keduanya adalah sebuah anugerah yang telah diberikan oleh
Tuhan kepada seluruh makhluknya. Bakat dimiliki oleh manusia dalam bentuk yang
berbeda-beda setiap manusia memiliki bakatnya masing-masing. Bakat yang kita
miliki sudah tertanam sejak kita dilahirkan namun terkadang kita tidak
mengetahui bakat apa yang sesungguhnya kita miliki. Karena itu dalam
pengembangannya bakat memerlukan proses yaitu sebuah latihan secara
terus-menerus. Biasanya bakat adalah sebuah kegiatan yang apabila kita lakukan
diri kita akan merasa senang untuk melakukannya dan tak akan pernah bosan. Selain
itu untuk mengetahui bakat apa yang kita miliki biasanya kita melakukan banyak
kegiatan dan memilih sebenarnya kegiatan seperti apa yang cocok atau sesuai
dengan keinginan kita.
Berbagai macam
kegiatan telah saya lakukan untuk mencari tahu sebenarnya bakat atau potensi
apa yang saya miliki. Sampai pada saat saya masuk ke jenjang SMP saya tahu
bahwa potensi yang saya punya adalah olahraga khususnya olahraga basket. Awalnya
saya tak tahu bahwa bakat saya adalah basket, sampai pada saat seorang pelatih
basket di SMP saya mengajak saya bergabung untuk masuk kedalam tim basket
sekolah saya. Pelatih tersebut memberitahukan kepada saya, bahwa saya memiliki
potensi untuk bermain basket karena postur badan saya yang tinggi. Saat pertama
mendengar Pelatih tersebut saya sempat tidak percaya bahwa saya memiliki potensi
untuk bermain basket. Karena pelatih tersebut selalu meminta saya untuk masuk
kedalam tim basket akhirnya saya memutuskan untuk ikut berlatih basket. Tidak
semudah yang saya kira, diawal-awal latihan saya merasa jenuh dan belum tertarik
dengan basket. Karena belum merasa cocok akhirnya saya memilih untuk berhenti
berlatih, namun pelatih tersebut meminta saya untuk mendampinginya saat melatih
tim sekolah saya. Mulai saat itulah muncul kembali minat saya untuk berlatih
basket. HIngga akhirnya saya merasa cocok dan senang saat berlatih atau
bermain.
Keahlian saya
dalam bermain basket berkembang pesat bahkan saat masih SMP saya sudah masuk
kedalam tim SMA. Permainan basket saya terus berkembang dari waktu ke waktu,
saya juga tak pernah bosan untuk terus
bermain basket. Walaupun cukup sulit untuk orang seperti saya dalam bermain
basket karena saya memiliki mata minus yang cukup besar. Tetapi hal tersebut tidak
menghalangi saya untuk terus berlatih dan berkembang dalam dunia basket. Mata
minus saya bukanlah suatu alas an bahwa saya harus berhenti dalam dunia basket.
Saya pun berpikir untuk tetap berlatih secara rutin hingga saya bisa masuk tim
inti saat kuliah atau bahkan lebih dari itu sampai akhirnya saya bisa mengikuti
kejuaraan basket dan menggemgam piala.



