Jumat, 26 Juni 2015

Proses Berpikir dan Berbahasa




Proses Berpikir dan Bahasa
Proses Berpikir
          Berpikir merupakan proses kognitif yang berlangsung dari stimulus hingga respon untuk memecahkan masalah, membuat keputusan, menghasilkan sesuatu yang baru, melakukan adaptasi dengan lingkungan, serta membentuk dan memilih lingkungan. Kadangkala berpikir juga dapat diartikan sebagai penalaran, meliputi proses mental yang digunakan untuk mementuk konsep, memecahkan masalah, dan ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas kreatif.
            Dari pengertian tersebut tampak bahwa ada tiga pandangan dasar tentang berpikir, yaitu (1) berpikir adalah kognitif, yaitu timbul secara internal dalam pikiran tetapi dapat diperkirakan dari perilaku, (2) berpikir merupakan sebuah proses yang melibatkan beberapa manipulasi pengetahuan dalam sistem kognitif, dan (3) berpikir diarahkan dan menghasilkan perilaku yang memecahkan masalah atau diarahkan pada solusi.
            Berpikir juga membutuhkan proses adapun proses berpikir adalah sebagai berikut : Proses atau jalannya berpikir itu pada pokoknya ada tiga langkah, yaitu:
1. Pembentukan Pengertian
Pengertian, atau lebih tepatnya disebut pengertian logis di bentuk melalui tiga tingkatan, sebagai berikut:
a.   Menganalisis ciri-ciri dari sejumalah obyek yang sejenis. Obyek tersebut kita perhatikan unsur - unsurnya satu demi satu. Kita ambil contoh saja masyarakat dari berbagai bangsa lalu kita analisa ciri-ciri misalnya:
Ø  Masyarakat Indonesia : tinggi tubuh standar, rambut hitam, kulit agak hitam, hidung tidak terlalu mancung.
Ø  Masyarakat Eropa : tubuh tinggi, warna mata berbagai macam, kulit putih, rambut pirang.
Ø  Masyarakat Cina : tubuh kecil, mata sipit, rambut hitam.
b.    Membanding-bandingkan ciri tersebut untuk diketemukan ciri-ciri mana yang sama atau yang tidak sama, mana yang selalu ada atau yang tidak selalu ada.
c.    Mengabstraksikan, yaitu menyisihkan, membuang, ciri-ciri yang tidak hakiki, menangkap cirri-ciri yang hakiki. Pada contoh di atas ciri - ciri yang hakiki itu ialah: Makhluk hidup yang berbudi.
2. Pembentukan Pendapat
          Membentuk pendapat adalah meletakkan hubungan antara dua buah
pengertian atau lebih. Pendapat yang dinyatakan dalam bahasa disebut kalimat, yang terdiri dari pokok kalimat atau subyek dan sebutan atau predikat. Selanjutnya pendapat dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
a.    Pendapat Afirmatif atau positif, yaitu pendapat yang menyatakan keadaan sesuatu, Misalnya Si Andi itu pandai, Si Ani rajin dan sebagainya.
b.    Pendapat Negatif, yaitu Pendapat yang menidakkan, yang secara tegas menerangkan tentang tidak adanya seuatu sifat pada sesuatu hal.
c.    Pendapat Modalitas atau kebarangkalian, yaitu pendapat yang menerangkan kebarangkalian, kemungkinan-kemungkinan sesuatu sifat pada sesuatu hal. Misalnya : hari ini mungkin akan turun  hujan, Si Ali mungkin tidak datang. dan sebagainya.
3. Penarikan Kesimpulan atau Pembentukan Keputusan
Keputusan adalah hasil perbuatan akal untuk membentuk pendapat baru berdasarkan pendapat-pendapat yang telah ada. Ada 3 macam keputusan, yaitu:
a.    Keputusan induktif yaitu keputusan yang diambil dari pendapat-pendapat khusus menuju ke satu pendapat umum. Misalnya: tembaga dipanaskan akan memuai, perak dipanaskan akan memuai, besi dipanaskan akan memuai, kuningan dipanaskan akan memuai. Jadi kesimpulannya yaitu semua logam kalau dipanaskan akan memuai (Umum).
b.    Keputusan Deduktif ditarik dari hal yang umum ke hal yang khusus, jadi berlawanan dengan keputusan induktif. Misalnya: semua logam kalau dipanaskan memuai (umum), tembaga adalah logam. Jadi kesimpulan yaitu tembaga kalau dipanaskan akan memuai.
c.    Keputusan Analogis adalah keputusan yang diperoleh dengan jalan membandingkan atau menyesuaikan dengan pendapat-pendapat khusus yang telah ada. Misalnya: Totok anak pandai itu naik kelas (Khusus). Jadi kesimpulannya Si Nunung anak yang pandai itu, tentu naik kelas.

Jadi dalam proses berpikir terdapat tiga langkah yaitu :
Pembentukan pengertian   lalu    Pembentukan pendapat    kemudian   Penarikan kesimpulan

  • Contohnya: Pada saat kita disekolah guru kita memberikan soal fisika, pada awalnya tentu kita tidak mengerti apa yang dijelaskan oleh guru kita. Namun dengan berjalannya waktu otak kita berkembang dan mulai melakukan proses berpikir pertama tentu otak kita akan merangsang apa yang kita terima dengan memberikan pengertian. Lalu dari soal latihan tersebut kita mulai mencari contoh-contoh soal lainnya yang mirip dan lebih mudah untuk dikerjakan sehingga memunculkan pendapat yang baru. Setelah itu kita mulai mencoba mengerjakan soal-soal tersebut dengan mudah karena sudah bisa mengetahui rumus apa yang akan digunakan saat diberikan soal fisika oleh guru.


Pemrosesan Bahasa Menjadi Pikiran
Bahasa adalah salah satu anugerah Tuhan yang memungkinkan manusia untuk mengelola pikirannya dan mengendalikan pengaruh luar terhadap pikirannya. Manusia seperti makhluk lainnya berinteraksi dengan lingkungannya dan memproses data dari organ panca inderanya untuk menciptakan suatu representasi utama dari dunia. Representasi di dunia menjadi sumber pesan yang diolah dalam pikiran.
Pesan-pesan yang disampaikan kepada manusia masuk ke dalam unit pemrosesan khusus, dan di dalam unit tersebut pesan-pesan tersebut bersaing dengan pesan-pesan lain. Pesan yang lebih kuat selanjutnya mengaktifasi sel-sel motorik untuk melakukan fungsinya. Apabila citra sensori sudah berwujud sebagai sebuah predator, maka seperangkat neuron akan melakukan fungsinya untuk mengolah citra sensori tersebut. Meskipun proses tersebut sangat panjang namun, kita tidak dapat menghitung dan merasakannya dan berlangsung sangat singkat.
            Bahasa adalah segala bentuk komunikasi di mana pikiran dan perasaan seseorang disimbolisasikan agar dapat menyampaikan arti kepada orang lain. Oleh karera itu, perkembangan bahasa dimulai dari tangisan pertama sampai anak mampu bertutur kata. Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai anak mengucapkan kata kata yang, pertama. Yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:
1.      Fase satu kata atau Holofrase
Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut diucapkan, sambil mengamati mimik (raut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.
2.      Fase lebih dari satu kata
Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mengadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.
3.      Fase ketiga adalah fase diferensial
Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setcngah sampai lima tahun. Ketcrampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak buKan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demii kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulaii dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberi tahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “gaya” dewasa.
Proses berbahasa Reseptif merupakan kegiatan penerimaan kode-kode bahasa yang disampaikan untuk kemudian dipahami penerima, proses penerimaan ini disebut juga dekode. Keterampilan berbahasa reseptif adalah membaca dan menyimak.. Proses decode dimulai dengan penerimaan unsur bunyi pada penerima (decode fonologi), kemudian proses pemahaman bunyi sebagai satuan gramatikal (decode gramatikal), dan diakhiri dengan pemahaman atas konsep yang dibawa oleh kode tersebut (decode semantik) diantara proses tersebut terdapat proses transmisi, yang bertugas mengubah kode tersebut menjadi kode bahasa, selain itu ada juga proses penyampaian pesan dari konsep tersebut yang sering disebut proses komunikasi. Proses tersebut terjadi pada otak penerima yang kemudian dekeluarkan oleh alat ucap manusi dalam bentuk bahasa. Dapat disimpulkan juga bahwa proses berbahasa reseptif diawali dari pemahaman untuk dijadikan pemahaman juga (bahasa).
Proses berbahasa produktif adalah peristiwa atau proses pelahiran kode bahasa bahasa. Proses berbahasa produktif itu sering juga disebut enkode. Proses produktif dimulai dengan tahap idealisasi yakni tahap kemunculan ide-ide dalam pemikiran manusia, tahap kedua adalah tahap perancangan yaitu tahap pemilihan bentuk-bentuk bahasa sebagai wadah ide yang muncul pada tahap idealisasi selain itu tahap perancangan juga meliputi komponen bahasa yang lain. Tahap selanjutnya adalah pelaksanaan, pada tahap ini lahir kode verbal linguistik yang melahirkan ujaran. Jika lebih disederhanakan lagi maka proses berbahasa produktif dimulai dengan enkode semantik yakni tahap penyusunan ide  dan gagasan, tahap kedua yaitu dekode gramatikal yakni tahap penyusunan konsep dalam satuan gramatikal dan proses selanjutnya adalah dekode semantic yakni tahap pemahaman akan konsep-konsep dari ide dan gagasan yang dibawah oleh kode tersebut. Proses ini berlangsung dalam otak pendengar dan kemudian diproduksi oleh alat-alat bicara atu artikulasi.

  • Sebagai contohnya : Seorang anak yang berumur 1 tahun akan mulai memahami bahasa yang didengar olehnya namun karena belum adanya kemampuan untuk mengucapkan bahasa tersebut sang anak hanya mengeluarkan bunyi yang terdengar sedikit mirip dengan apa yang didengarnya. Semakin berkembangnya pola piker dan kemampuan otak serta berbahasa anak tersebut akan mulai lancer mengucapkan seperti apa yang telah didengarnya

Jumat, 24 April 2015

Menggali Potensi Dalam diri





 POTENSI DALAM DIRI



Setiap manusia dilahirkan dalam bakat atau potensi diri yang berbeda-beda, Karena keduanya adalah sebuah anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan kepada seluruh makhluknya. Bakat dimiliki oleh manusia dalam bentuk yang berbeda-beda setiap manusia memiliki bakatnya masing-masing. Bakat yang kita miliki sudah tertanam sejak kita dilahirkan namun terkadang kita tidak mengetahui bakat apa yang sesungguhnya kita miliki. Karena itu dalam pengembangannya bakat memerlukan proses yaitu sebuah latihan secara terus-menerus. Biasanya bakat adalah sebuah kegiatan yang apabila kita lakukan diri kita akan merasa senang untuk melakukannya dan tak akan pernah bosan. Selain itu untuk mengetahui bakat apa yang kita miliki biasanya kita melakukan banyak kegiatan dan memilih sebenarnya kegiatan seperti apa yang cocok atau sesuai dengan keinginan kita.

 
            Berbagai macam kegiatan telah saya lakukan untuk mencari tahu sebenarnya bakat atau potensi apa yang saya miliki. Sampai pada saat saya masuk ke jenjang SMP saya tahu bahwa potensi yang saya punya adalah olahraga khususnya olahraga basket. Awalnya saya tak tahu bahwa bakat saya adalah basket, sampai pada saat seorang pelatih basket di SMP saya mengajak saya bergabung untuk masuk kedalam tim basket sekolah saya. Pelatih tersebut memberitahukan kepada saya, bahwa saya memiliki potensi untuk bermain basket karena postur badan saya yang tinggi. Saat pertama mendengar Pelatih tersebut saya sempat tidak percaya bahwa saya memiliki potensi untuk bermain basket. Karena pelatih tersebut selalu meminta saya untuk masuk kedalam tim basket akhirnya saya memutuskan untuk ikut berlatih basket. Tidak semudah yang saya kira, diawal-awal latihan saya merasa jenuh dan belum tertarik dengan basket. Karena belum merasa cocok akhirnya saya memilih untuk berhenti berlatih, namun pelatih tersebut meminta saya untuk mendampinginya saat melatih tim sekolah saya. Mulai saat itulah muncul kembali minat saya untuk berlatih basket. HIngga akhirnya saya merasa cocok dan senang saat berlatih atau bermain.


            Keahlian saya dalam bermain basket berkembang pesat bahkan saat masih SMP saya sudah masuk kedalam tim SMA. Permainan basket saya terus berkembang dari waktu ke waktu, saya juga tak pernah  bosan untuk terus bermain basket. Walaupun cukup sulit untuk orang seperti saya dalam bermain basket karena saya memiliki mata minus yang cukup besar. Tetapi hal tersebut tidak menghalangi saya untuk terus berlatih dan berkembang dalam dunia basket. Mata minus saya bukanlah suatu alas an bahwa saya harus berhenti dalam dunia basket. Saya pun berpikir untuk tetap berlatih secara rutin hingga saya bisa masuk tim inti saat kuliah atau bahkan lebih dari itu sampai akhirnya saya bisa mengikuti kejuaraan basket dan menggemgam piala.

Jumat, 17 April 2015

perbedaan antara bakat dan kreativitas



PERBEDAAN ANTARA BAKAT DAN KREATIVITAS

          Setiap manusia dilahirkan dengan ciri fisik maupun ciri intelejensi yang bermacam-macam, hal ini karena setiap manusia memiliki gen yang berbeda-beda. Sifat pembawaan dari orang tua sangat berpengaruh pada apa yang akan diturunkan kepada anaknya. Oleh karena itu manusia memiliki bakat dan tingkat kecerdasan yang berbeda beda.
Ada beberapa devinisi bakat yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:
          Bingham (1986) menjelaskan bakat adalah suatu kondisi atau serangkaian karakteristik atau kemampuan seseorang yang dengan suatu latihan khusus memeungkinkannya mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan ketrmpilan khusus, misalnya kemampuan berbahasa, kemampuan bermain music  dan lain-lain.
Crow & Crow dalam bukunya General Psychology sebagaimana dikutup oleh Nurkancana (1993 : 191), mengatakan bahwa :Bakat adalah suatu kualitas yang Nampak pada tingkah laku manusia pada suat lapangan keahlian tertentu seperti music, seni mengarang, kecakapan dalam matematika, keahlian dalam bidang mesin, atau keahlian-keahlian lainnya.
Suzuki (1993:1-2) mempunyai pandangan yang menarik tentang bakat. Ia beranggapan kata sejak lahir digunakan secra ceroboh didalam pernyataan sejak lahir ketika kita mengatakan anak mempunyai bakat sejak lahir sebenarnya telah berusia lima atau enam tahun. Ketika kita melihat bayi yang baru lahir tentu kita tidak akan pernah bisa memastikan apakah bayi tersebut nantinya jadi pemain bola yang baik, pemain musik ataukah menjadi seorang sasatrawan.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulakan bahwa bakat adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dan dibawa sejak lahir kemudian dengan latihan-latihan tertentu akan memperoleh berbagai macam pengetahuan dan keterampilan khusus yang akan berkembang pada diri seseorang.
Lalu apakah kreativitas itu?
          Kreativitas adalah sebuah kemampuan yang dimiliki oleh individu/ seseorang untuk memahami keadaan/dunia, dalam menginterprestasikan pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara yang baru dan asli (membuat/ menciptakansuatuhal yang baru yang bermanfaat).
Berikut ini adlah kriteria-kriteria kreativitas :
- Sensitivity to problems, yaitu kreativitas dilihat dari kepekaan terhadap masalah yang muncul.
- Originality, yaitu pemecahan masalah dengan cara baru, bukan meniru pemecahan     masalah orang lain.
- Breadth, yaitu ketepatan dalam pemecahan masalah dan berguna.
- Ingenuity, yaitu adanya kecerdikan dalam pemecahan masalah.
- Recognity by peers, yaitu adanya pengakuan dari kelompoknya tentang penemuannya.
karena kreativitas merupakan hasil dari proses berpikir kreatif yang dilakukan oleh seseorang, sehingga Berpikir kreatif sangat erat hubungannya dengan kreativitas.
Jika dilihat dari penjelasan diatas maka kita dapat mengartikan bahwa kreativitas adalah sebuah kemampuan manusia untuk menginterprestasikan apa yang sudah mereka alami dan yang sudah dipelajari dengan cara  mereka sendiri namun tetap dalam kontrol sosial.

Dari dua penjelasan tersebut dapat kita simpulkan bahwa bakat dan kreativitas memiliki definisi yang berbeda. Bakat adalah sifat/kemampuan yang telah kita bawa sejak kita dilahirkan dan hal tersebut sudah paten kita miliki namun kita memerlukan pengembangan khusus yaitu dengan cara berlatih agar bakat tersebut menjadi berkembang terus-menerus. Sedangkan kreativitas adalah kemampuan seseorang dalam memahami maupun menginterprestasikan apa yang telah dikuasai, dialami, serta dipelajari oleh seseorang agar menghasilkan sesuatu yang yang baru (karya) dan terdapat nilai estetika atau keindahan.


sumber:
http://ritaheriyantibks.blogspot.com/p/bakat.html 
http://islamlover-kaskus.blogspot.com/2015/04/bakat-adalah-ada-beberapa-devinisi.html